Mata Kuliah : Dasar Ternak Unggas
Dosen : Fitriani S.Pt,.M.P
PEMBUATAN RANSUM UNGGAS BROILER FASE STARTER
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK II
NAMA : NIM :
ü MUH.RESKI 215 140 043
ü SUDARMAN 215
140 047
ü NURALIFAH ILYANA 215
140 040
ü FAISAL 215
140 057
ü FIRMANSYAH 215 140 034
FAKULTAS PERTANIAN
PETERNAKAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PAREPARE
TAHUN AJARAN 2016
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum.wr.wb.
Pertama-tama, marilah kita
mengucapkan syukur pada Allah SWT yang telah memberi nikmat-nikmat-Nya yang tak
dapat di dihitung, ibarat ranting-ranting di dunia ini sebagai pena dan air di
laut sebagai tintanya maka tidak dapat melukiskan seluruh NikmatNya, sehingga laporan
ini dapat selesai dengan tepat waktu.
Dalam
penyusunan laporan ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, baik itu
yang datang dari diri penulis maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh
kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya laporan ini dapat
terselesaikan. Dan kami sebagai penulis
menyadari bahwa selesainya penyusunan laporan ini tidak lain berkat
bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, teman dan kakak-kakak senior
sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Laporan
ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu berkaitan dengan Pencampuran
Ransum pada ternak unggas, dalam hal ini Ransum Unggas Briler Fase Starter yang
kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi,
dan berita. Semoga laporan ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas
Muhammadiyah Parepare.
Penulis
menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan,
untuk itu kepada seluruh pihak terhusus kepada pembaca, kami sangat mengharapkan
kritik dan saran demi perbaikan pembuatan laporan dimasa yang akan datang, semoga laporan
selanjutnya dapat lebih baik.
Wassalamualaikum .Wr.Wb
Parepare, 28 Mei
2016
Penyusun
DAFTAR ISI
SAMPUL
KATA PENGANTAR--------------------------------------------------------- i
DAFTAR ISI------------------------------------------------------------------
ii
DAFTAR
TABEL------------------------------------------------------------- iii
DAFTAR
GAMBAR---------------------------------------------------------- iv
DAFTAR
LAMPIRAN------------------------------------------------------- v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang ---------------------------------------------------- 1
1.2 Rumusan
Masalah-------------------------------------------------
2
1.3 Tujuan Dan
Manfaat ---------------------------------------------- 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA----------------------------------------------------- 3
2.1 Ransum------------------------------------------------------------- 3
2.2 Bahan Pakan------------------------------------------------------- 3
BAB III MATERI DAN METODA------------------------------------------------- 6
3.1 Waktu dan Tempat------------------------------------------------- 6
3.2 Materi-------------------------------------------------------------- 6
3.3 Metoda------------------------------------------------------------- 6
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN------------------------------------------- 7
4.1 Pembahasan Ransum----------------------------------------------- 7
4.2 Bahan Pakan------------------------------------------------------- 10
4.3 Hasil Praktikum---------------------------------------------------- 15
BAB V PENUTUP----------------------------------------------------------------------- 17
5.1 Kesimpulan -------------------------------------------------------- 18
5.2 Saran--------------------------------------------------------------- 18
DAFTAR PUSTAKA-------------------------------------------------------------------
19
LAMPIRAN------------------------------------------------------------------------------- 20
Lampiran
1. Perhitungan zat makanan bahan pakan
dan zat makan---------------------------------------------------- 21
Lampiran 2. Foto kegiatan ---------------------------------------------------- 22
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Komposisi
Bahan Makanan Ternak--------------------------------- 16
Tabel
4.2. Kebutuhan Ternak Ayam Broiler Fase Starter----------------------
16
Tabel
4.3. Hasil Formulasi Ransum-------------------------------------------- 17
Tabel
4.4. Hasil Perhitungan Zat Makanan yang Akan Digunakan------------ 17
DAFTAR
GAMBAR
Gambar 4.1 Tepung Ikan------------------------------------------------------- 11
Gambar 4.2 Jagung------------------------------------------------------------- 12
Gambar 4.3 Dedak Padi------------------------------------------------------- 13
Gambar 4.4 Minyak Nabati---------------------------------------------------- 14
Gambar 4.5 Bungkil Kelapa--------------------------------------------------- 15
Gambar 4.6 Broiler Konsentrat------------------------------------------------ 15
DAFTAR
LAMPIRAN
Lampiran
1. perhitungan zat makanan bahan pakan
dan penggunaan zat makanan ------------------------------------------------- 20
Lampiran 2 Foto Kegiatan----------------------------------------------------- 21
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan pakan adalah sesuatu yang bisa dimakan, dicerna seluruh/sebagian
tubuh dan tidak menggangu kesehatan ternak yang memakannya.
Ransum merupakan susunan dari beberapa bahan pakan dengan perbandingan
tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Ransum dicampur dari
bahan-bahan yang mengandung gizi lengkap seperti protein, lemak, serat kasar,
vitamin dan mineral. Semakin banyak ragam suatu ransum, kualitas ransum akan
semakin baik terutama dari sumber protein hewani. Bahan yang dapat digunakan
untuk mencampur ransum yaitu dedak, jagung, bungkil kelapa, Tepung ikan, Minyak
Nabati, Broiler konsentrat dan lain-lain. Pada dasarnya mencampur ransum
merupakan suatu kegiatan mengkombinasi berbagai macam bahan makanan ternak
untuk memenuhi kebutuhan ternak akan zat makanan tersebut. Ransum terbagi 4 bagian : 1. Ransum
sempurna adalah ransum yang kandungan zat-zat makananya cukup untuk memenuhi
kebutuhan dan zat-zat makanan tersebut dalam keadaan seimbang 2. Ransum hidup
pokok adalah ransum yang kandungan zat-zat makananya hanya sekedar cukup untuk
memenuhi kebutuhan proses hidup saja (bernafas dan non produktif ) 3. Ransum
produksi adalah ransum yang digunakan di atas kebutuhan hidup pokok guna dapat
berproduksi sacara maksimal 4. Ransum ekonomis adalah ransum yang dapat
menghasilkan atau memberikan hasil di atas biaya untuk makanan.
Pakan
adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan
hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan,
reproduksi. Pakan merupakan faktor terpenting, karena mencakup 80% dari biaya produksi. Jumlah pakan yang
diberikan harus tepat waktu dan jumlah agar pakan tidak terbuang percuma dan
menyebabkan biaya operasional menjadi tinggi. Bahan baku pakan biasanya berasal
dari hasil pertanian, perikanan, peternakan, serta hasil industri yang
mengandung zat gizi dan layak digunakan sebagai pakan.
Dalam menyusunan Ransum yang ekonomis dan terjangkau peternak seoptimal
mungkin memanfaatkan sumber daya local yang tersedia di lingkungan setempat.
Selanjutnya dalam pemilihan bahan pakan yang perlu diperhatikan antara lain
yaitu kandungan nutrisi bahan, tingkat kecernaan, ketersediaan, kontinuitas dan
harga serta kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat anti nutrisi atau
racun dalam bahan tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian pada latar belakang di atas, maka secara spesifik permasalahan yang
ingin dikaji dalam makalah ini adalah untuk mengetahui kebutuhan nutrisi pada
ayam broiler.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum Penyusunan Ransum ini adalah agar Mahasiswa belajar menyusun suatu formula
ransum sesuai dengan tujuan dan kebutuhan ternak. Manfaat yang diperoleh pratikan
pada saat pratikum adalah mengetahui apa saja yang dipratikumkan dan dijelaskan
oleh dosen maupun asistennya, tentang bagaimana cara penyusunan ransum dan bahan-bahan
apa saja yang digunakan dalam penyususnan ransum serta persentase pemakaian
bahan pakan yang akan digunakan dan pratikan dapat lebih mengetahui serta bisa
mempraktekkanya secara realistis mengenai tata cara menyusun suatu formula
ataupun mencampur ransum yang dibutuhkan oleh ternak secara baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ransum
Ransum merupakan susunan dari beberapa bahan pakan dengan perbandingan
tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Ransum yang diberikan kepada ternak merupakan sumber zat nutrisi
utama yang akan digunakan oleh ternak untuk tumbuh dan berkembang serta
menjalankan proses metabolisme yang berlangsung didalam tubuhnya.
Ketersediaannya baik dari aspek jumlah (kuantitas) maupun mutu (kualitas) harus
sesuai dengan kebutuhan ternak. Ketidaktersediaan salah satu zat nutrisi atau
kadarnya yang kurang akan segera direspon oleh tubuh ternak dengan menurunkan
atau bahkan menghentikan proses metabolisme maupun produktivitasnya (tergantung
tingkat dan lama defisiensi) (Rafandi, 2001).
2.2 Bahan Pakan
Bahan
pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh hewan. Bahan
makanan ternak terdiri dari tanaman, hasil tanaman dan kadang-kadang juga bahan
makanan yang berasal dari ternak atau hewan yang hidup di laut (Tillman et
al.1998). Bahan Pakan Yang digunakan Meliputi :
a)
Tepung ikan
Tepung Ikan berasal dari ikan sisa atau buangan yang tidak dikonsumsi oleh
manusia atau sisa pengolahan industri makanan ikan sehingga kandungan nutrisinya
beragam, pada umumnya berkisar antara 60-70%. Tepung ikan merupakan pemasok
lysin dan methionin yang baik, dimana hal ini tidak terdapat pada kebanyakan
bahan baku nabati. Kandungan nutrisi tepung ikan yaitu 60-70% protein, 1,0%
serat kasar, 5,0% Ca dan 3,0% P
( Hatara jasa,
2007).
b)
Dedak Padi
merupakan hasil ikutan padi, jumlahnya
sekitar 10% dari jumlah padi yang di giling menjadi beras. Bahan ini biasa
digunakan sebagai sumber energi bagi pakan layer, yang mana penggunaanya
rata-rata mencapai 10-20%. Energi yang terkandung dalam dedak padi bisa
mencapai 2980 kkal/kg. Namun nilai ini bukan harga mati, karena jumlah energi
yang bisa dihasilkan dari nutrient yang ada pada dedak tergantung dari jumlah
serat kasar, dan kualitas lemak yang ada didalamnya. Semakin tinggi serat kasar
maka semakin rendah pula jumlah energinya. Indikator tingginya serat kasar bisa
di lihat dari jumlah hull/sekam nya dengan cara menaganalisa dengan
phloroglucinol (Joni, S, 2003).
c)
Minyak Nabati
Penggunaan minyak pada pembuatan pakan sebaiknya menggunakan minyak nabati
yang baik, tidak mudah tengik dan tidak mudah rusak. Penggunaan minyak nabati
yang biasanya berasal dari kelapa atau sawit pada umumnya berkisar antara 2-6%.
Jagung merupakan bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai sumber
protein. Kadar protewin jagung rendah yaitu 8,9%, bahkan defisien terhadap asam
amino penting, terutama lysin dan triptofan (Judika, 2006).
d) Jagung
Jagung merupakan bahan baku utama
dalam pembuatan pakan. Proporsi penggunaan jagung khususnya dalam pembuatan
pakan ayam ras mencapai 51.4 persen dari total bahan baku yang digunakan (Tangendjaja
et al, 2002 dan Deptan, 2002). Jagung kuning digunakan sebagai bahan
baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai bahan sumber protein, karena kadar
protein yang rendah (8,9%), bahkan defisien terhadap asam amino penting,
terutama lysin dan triptofan.
e)
Bungkil kelapa
Bungkil Kelapa adalah: sisa-sisa ampas kelapa parut dan telah
dihilangkan kadar airnya melalui proses pemanasan (digongseng), begitu juga
dengan jagung dan kedelai. Bungkil jagung bearti sisa-sisa ampas jagung setelah
diperas, lalu dikeringkan. Tujuan menghilangkan kadar air ini adalah agar bisa
bertahan lama saat disimpan.
Faktor penyebab ketidaktersediaan
zat nutrisi dapat disebabkan ketidaktepatan manajemen penanganan dan
penyimpanan ransum maupun kesalahan tata laksana pemberian ransumnya. Kondisi
suhu, kelembaban maupun cahaya yang berlebih dapat menurunkan kadar zat nutrisi
yang terkandung dalam ransum. (Sytarjo, 2011).
f)
Broiler Konsentrat
Broiler
konsentrat adalah bahan yang telah tercampur yang khusu untuk pakan broiler.
Bahan pakan ini dapat di campur dengan bahan pakan lain dan dapat pula
diberikan langsung pada ternak briler. Bahan pakan ini kandungan proteinnya
terbilang tinggi yaitu berkisar 41% sedang kandungan energi metabolismenya
berkisar 2800 kkal / kg.
BAB III
MATERI DAN
METODA
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum
dilaksanakan pada hari Jum’at
pukul 14.00 Wita
sampai selesai, tanggal 27 Mei 2016. Tempat pelaksanaan dari
praktikum ini yaitu di Laboratorium FAPETRIK
Universitas Muhammadiyah Parepare
3.2 Materi
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum mencampur ransum yaitu tepung
ikan, bungkil
kelapa, dedak
Padi, jagung halus, minyak Nabati, Broiler Konsentrat, terpal, timbangan dan plastik.
3.3 Metoda
Bahan-bahan yang sudah ada ditimbang terlebih dahulu. Kemudian
kelompokkan bahan-bahan yang jumlahnya sedikit dan teksturnya halus dan
campurkan sampai rata. Jika menggunakan dedak dan minyak , campurkan keduanya
terlebih dahulu. Setelah itu tambahkan tepung ikan, bungkil kedele, jagung dan
bahan lainnya. Campurkan semua bahan tersebut sampai rata dan homogen.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan Ransum
Mencampur
Ransum merupakan kegiatan pencampuran bahan pakan dengan memperhatikan
upaya-upaya dalam mengefisienkan penggunaan input bahan-bahan pakan yang
tersedia dengan perbandingan pakan, baik jumlah pakan maupun mutu dari pakan
tertentu agar campuran tersebut dapat memenuhi pemeliharaan ternak yang akan
mengkonsumsinya, yang tentu saja akan memperbaiki pendapatan kebutuhan ternak
tersebut agar dapat berproduksi dengan baik.
Dalam mencampur ransum tentunya kita
akan memakai ransum yang baik dan berkualitas, ransum dapat dinyatakan
berkualitas baik apabila mampu memberikan seluruh kebutuhan nutrien secara
tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrien tersebut bagi ternak. Ransum
yang berkualitas baik berpengaruh pada proses metabolism tubuh ternak sehingga
ternak dapat menghasilkan daging yang sesuai dengan potensinya. pernyataan
tersebut dipertegas lagi oleh Barnes, Jones D. (2000) Ransum yang berkualitas
baik merupakan salah satu syarat untuk dapat menghasilkan produksi ayam broiler
yang optimal. Produksi optimal dapat dicapai bila bahan pakan yang digunakan
dapat memenuhi keperluan gizi dalam tubuh ayam.
Dalam penyusunan ramsum ada beberapa
metode yang digunakan yaitu :
1. Metode coba-coba (Trial
and Error Method).
2. Metode bujur sangkar (Square
Method).
3. Metode programming method (LP).
4. Metode matrik 2 x 2 (Two
By Two Matrik).
5. Metode berpedoman kadar protein.
6. Metode berpedoman kadar energy.
Dalam penyusunan ransum pada
praktikum ini metode yang dipakai yaitu
metode coba-coba, menurut Mardiana (2011) kelemahan dari metode ini yaitu
meskipun metode ini merupakan penyusunyan ransum dengan cara yang paling mudah
tetapi membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang cukup besar.
Ransum
adalah bahan pakan yang dapat mempengaruhi kebutuhan ternak selama 24 jam.
Namun menurut Leeson,S. and J.D. Summers, (2001) Ransum merupakan gabungan dari
beberapa bahan yang disusun sedemikian rupa dengan formulasi tertentu untuk
memenuhi kebutuhan ternak selama satu hari dan tidak mengganggu kesehatan
ternak.
Rasyid, Dkk (2003) menyatakan bahwa
ransum adalah campuran bahan-bahan ransum untuk memenuhi kebutuhan zat-zat
nutrisi yang seimbang dan tepat. Seimbang dan tepat berarti zat makanan itu
tidak berlebihan dan tidak kurang. Ransum yang diberikan haruslah mengandung
protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Tujuan utama pemberian ransum
kepada ayam untuk menjamin pertambahan berat badan yang paling ekonomis selama
pertumbuhan (Tazmiri, 2000).
Produktivitas broiler yang maksimal
akan tercapai apabila ayam tersebut mendapatkan ransum yang seimbang kandungan
asam aminonya. Rasyid, Dkk(2003) menyatakan bahwa asam amino sebagai zat
makanan diperlukan tubuh sama halnya seperti mineral, energi, vitamin dan asam
lemak.
Ransum
yang kita campur kemudian akan diberikan pada ayam harus mengandung suplementasi sebagai sumber zat
nutrisi utama yang akan digunakan oleh tubuh ayam untuk tumbuh dan berkembang
serta menjalankan proses metabolisme yang berlangsung di dalam tubuhnya. Ketersediaannya
baik dari aspek jumlah (kuantitas) maupun mutu (kualitas) harus sesuai dengan
kebutuhan ayam.
Ketidaktersediaan
salah satu zat nutrisi atau kadarnya yang kurang akan segera direspon oleh
tubuh ayam dengan menurunkan atau bahkan menghentikan proses metabolisme maupun
produktivitasnya (tergantung tingkat dan lama defisiensi).
Pernyataan
diatas dipertegas oleh Suwandak (2000) ia menyebutkan bahwa faktor penyebab
ketidaktersediaan zat nutrisi ini dapat disebabkan ketidaktepatan manajemen
penanganan dan penyimpanan ransum maupun kesalahan tata laksana pemberian
ransumnya. Kondisi suhu, kelembaban maupun cahaya yang berlebih dapat
menurunkan kadar zat nutrisi yang terkandung dalam ransum. Kadar air dalam
bahan baku ransum yang berlebih (> 14%) juga dapat menurunkan kualitas
ransum. Selain itu penyimpanan yang terlalu lama dan tidak menggunakan alas
juga bisa mengakibatkan hal tersebut.
Oleh
karena itu, pemberian suplemen diperlukan untuk melengkapi atau memenuhi
kandungan zat nutrisi yang berkurang akibat penanganan dan penyimpanan yang
kurang tepat.
Komponen
dari bahan makanan yang dapat dicerna dan digunakan dalam tubuh ternak terdiri
dari : karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Mineral ialah suatu senyawa an-organik yang
menyusun + 4% dari tubuh ayam. Ketersediaannya harus disuplai dari luar,
misalnya melalui ransum karena tubuh ayam tidak bisa memproduksinya. Dalam
perkembangannya, ketersediaan mineral dapat berupa mineral organik, yaitu
mineral yang digabungkan dengan senyawa organik seperti asam amino, asam
organik atau polisakarida. (Uaiskunilhaq, 2009).
Dari
praktikum yang telah dilaksanakan sebelumnya diajarkan mengenai prinsip ransum
yang baik, yaitu :
1. Nutriennya seimbang.
2. Ransumnya homogen.
3. Faktor exsternal ransum yang
digunakan rendah.
4. Faktor internal ransum yang
diharapkan tinggi.
5. Palabilitas oleh ternak tinggi.
6. micotoxyn yang ada dalam ramsum
sedikit atau tidak ada.
Dan ada beberapa karakteristik
ransum yang baik yaitu :
a) Jumlah dan
jenis zat makanan disesuaikan dengan fase pertumbuhan ternak, produktifitas
ternak (ternak perah memerlukan zat makanan yang lebih banyak dan lebih tinggi
mutunya dari ternak potong) dan pengelolaan ( ternak yang dikurung atau
dikandang memerlukan zat makanan yang lebih banyak dan lebih tinggi mutunya
dari ternak yang dilepas).
b) Bentuk fisik
ransum harus disesuaikan, sehingga tidak mengganggu nafsu makan dan pencernaan.
c) Ransum tidak
akan menyebabkan gangguan pencernaan yang dapat menurunkan manfaat gizi.
d) Perlu adanya
pembatasan-pembatasan yang disesuaikan kepada harga bahan-bahan persediaan yang
berkesinambunganm dan ketahanan bahan baku bila disimpan dalam waktu tertentu
serta kepada adanya kandungan racun atau yang menghambat pencernaan nutrisi
lainnya.
4.2 Bahan Pakan
Ayam
broiler fase
starter
merupakan hasil teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis,
pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan rendah.(Murtidjo, 1987).
Untuk mendapatkan bobot badan yang sesuai dengan yang
dikehendaki pada waktu yang tepat, maka perlu diperhatikan pakan yang tepat.
Kandungan energi pakan yang tepat dengan kebutuhan ayam dapat mempengaruhi
konsumsi pakannya, dan ayam jantan memerlukan energi yang lebih banyak daripada
betina, sehingga ayam jantan mengkonsumsi pakan lebih banyak. Untuk memenuhi
kebutuhan pakan yang cukup maka disusun lah ransum.
a)
Tepung Ikan
Tepung ikan (marine fish meal)
adalah salah satu produk pengawetan ikan dalam bentuk kering, kemudian digiling
menjadi tepung. Bahan baku tepung ikan umumnya adalah ikan-ikan yang kurang
ekonomis, hasil sampingan penangkapan dari penangkapan selektif, glut ikan
(ikan yang melimpah) pada musim penangkapan dan sisa-sisa pabrik pengolahan
ikan seperti pabrik pengalengan dan pembekuan ikan dan minyak ikan. Tepung ikan
digunakan dalam bahan pakan karena kandungan protein dan mutu proteinnya yang
tinggi. Mutu protein bergantung dari kesesuaian komposisi asam-asam amino
penyusun protein yang dibutuhkan oleh ternak. Oleh karena itu dalam pakan
buatan untuk ikan selalu dibutuhkan tepung ikan, jumlahnya bergantung dari
jumlah total protein yang terkandung dalam pakan. Biasanya berkisar
antara 10% – 50% dari total kandungan protein dalam pakan.
Tepung ikan yang biasa digunakan
adalah yang berwarna coklat, ada yang coklat pucat sampai dengan coklat
gelap. Pakan yang coklat gelap sering kali dianggap mengandung banyak
tepung ikan, padahal warna tersebut juga bisa berasal dari tepung hewan darat.
Anas (2005) Tepung ikan yang baik baunya harum, tidak amis dan tidak anyir.
Kandungan proteinnya diatas 62%, kandungan lemaknya 7 %, butirannya halus, tidak terlalu
banyak mengandung tulang. Tepung ikan yang terlalu amis atau anyir
menandakan bahwa bahan baku tepung ikan tidak segar.
Kualitas tepung ikan ditentukan oleh
jenis ikannya (bahan baku), penyimpanan ikan segar sejak mulai ditangkap di
laut sampai pabrik pengolahan dan cara pengolahannya. Jenis ikan dan proses
produksi tepung ikan akan mempengaruhi kadar protein dan lemak tepung
ikan. Sedangkan kesegarannya ditentukan oleh cara penyimpanan ikan segar
sampai dengan ikan tersebut diolah menjadi tepung ikan.
Kebutuhan
protein tergantung pada umur ayam, tingkat pertumbuhan , iklim, dan penyakit.
Anak ayam mulai menetas (DOC) sampai umur 6-7 minggu diberikan ransum mengandung
protein 20 – 22%,
sedangkan setelah itu 17 – 18%. Vitamin berfungsi antara lain
melancarkan proses kehidupan di dlam alat-alat tubuh seperti pencernaan,
pembentukkan tulang, perumbuhan, dan memberikan daya tahan tubuh terhadap
penyakit atau infeksi (Veronicha, 2000).
Gambar 4.1.
Tepung Ikan
b)
Jagung
Jagung merupakan bahan baku utama
dalam pembuatan pakan. Proporsi penggunaan jagung khususnya dalam pembuatan
pakan ayam ras mencapai 51.4 persen dari total bahan baku yang digunakan
(Tangendjaja et al, 2002 dan Deptan, 2002). Jagung kuning digunakan
sebagai bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai bahan sumber protein,
karena kadar protein yang rendah (9%), bahkan defisien terhadap asam
amino penting, terutama lysin dan triptofan.
Jagung merupakan salah satu komponen
pakan ternak yang paling banyak dibutuhkan. Menurut Direktorat Jendral Bina
Produksi Tanaman Pangan (2002) sesuai dengan standar, komposisi pakan yang
berasal dari jagung, adalah untuk ayam pedaging 54 persen, ayam petelur 47,14 persen. Dengan demikian fungsi jagung
khususnya untuk pakan menjadi sangat penting.
Kandungan nutrisi jagung :
- Bahan kering : 75 – 90 %
- Serat kasar : 1,9 %
- Protein kasar : 9 %
- Lemak kasar : 3,7 %
- Energi Metabolisme : 3340 Kkal/kg
Jagung merupakan sebagai sumber
energi yang rendah serat kasarnya, sumber Xantophyll, dan asam lemak yang baik,
jagung kuning tidak diragukan lagi. Asam linoleat jagung kuning sebesar 1,6%,
tertinggi diantara kelompok biji-bijian.
Gambar 4.2.
Jagung
c)
Dedak Padi
Dedak padi diperoleh dari
penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya dedak padi yang dihasilkan
tergantung pada cara pengolahannya. Sebanyak 14,44% dedak kasar, 26,99% dedak
halus, 3% bekatul dan 1-17% menir dapat dihasilkan dari berat gabah kering.
Dedak padi sangat disukai ternak, pemakaian dedak padi dalam ransum ternak
umumnya sampai 25% dari campuran kosentrat. Kelebihan penambahan dedak padi
dalam ransum dapat menyebabkan ransum mengalami ketengikan selama penyimpanan.
Bulk desinty dedak padi yang baik adalah 337,2-350,7 g/l. Dedak padi yang
berkualitas baik protein rata-rata dalam bahan kering adalah 12,4%, lemak 13,6%
dan serat kasar 13,0 %. Kandungan protein Dedak padi lebih berkualitas
dibandingkan dengan jagung. Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tinggi
dalam niasin. (A. Husin, 2009)
Kelemahan utama dedak padi
adalah kandungan serat kasarnya yang cukup tinggi, yaitu 11,95 % dan adanya senyawa fitat
yang dapat mengikat mineral dan protein sehingga sulit dapat dimanfaatkan oleh
enzim pencernaan. Inilah yang merupakan faktor pembatas penggunaannya
dalam penyusunan ransum. Namun, dilihat dari kandungan proteinnya Berkisar 11,5 %, bahan pakan ini sangat
diperhitungkan dalam penyusunan ransum unggas. Dedak padi mengandung
energi termetabolis berkisar 2314 kkal/kg. Kelemahan lain pada dedak padi adalah
kandungan asam aminonya yang rendah, demikian juga halnya dengan vitamin
dan mineral nya (Rasyaf, 2004). Penggunaan dedak padi dalam ransum unggas
ada batasanya, yaitu 10% untuk ayam Broiler fase starter. (Hendri, 2002).
Gambar 4.3. Dedak Padi
d) Minyak Nabati
Kandungan energi minyak berkisar
antara 9000 kkal / kg bergantung dari bahan dan
kualitas minyak tersebut. Minyak dianjurkan untuk diberikan pada unggas dalam
jumlah yang relatif sedikit. Campuran minyak goreng pada pakan maksimal 5%.
Terdapat tiga faktor utama yang
harus diperhitungkan dalam menyusun pakan yang akan mempengaruhi kualitas dan
kuantitas. Ke tiga hal tersebut adalah ketersediaan bahan pakan unggas di
daerah peternakan tersebut, harga bahan pakan unggas, dan kandungan zat-zat
makanan bahan pakan unggas. Ketiga faktor tersebut mempengaruhi lima komponen
bahan pakan unggas yang menjadi penyusun pakan terbesar, yaitu bekatul, minyak
goreng dan jagung sebagai sumber energi pakan, bungkil kedelai dan tepung ikan
sebagai sumber protein pakan. Dalam fomilasi ransum minyak jugaberfungsi
sebagai perekan antara bahan pakan yang satu dengan yang lainnya agar menjadi
homogen. (Anas, 2005)
Gambar 4.4. Minyak Nabati
e)
Bungkil kelapa
Bungkil Kelapa adalah: sisa-sisa ampas kelapa parut dan telah
dihilangkan kadar airnya melalui proses pemanasan (digongseng), begitu juga
dengan jagung dan kedelai. Bungkil jagung bearti sisa-sisa ampas jagung setelah
diperas, lalu dikeringkan. Tujuan menghilangkan kadar air ini adalah agar bisa
bertahan lama saat disimpan.
Bungkil kelapa dapat di berikan pada ayam broiler fase starter tidak lebih
dari 15% Hal ini dikaitkan dengan kandungan protein pada bungkil kelapa
berkisar 20,5%, Lemak kasar 9,6%, serat kasar 14,1%, dan Energi metabolismenya
adalah 1860
kkal / kg
Gambar 4.5.
Bungkil Kelapa
f)
Broiler Konsentrat
Broiler
konsentrat adalah bahan yang telah tercampur yang khusu untuk pakan broiler.
Bahan pakan ini dapat di campur dengan bahan pakan lain dan dapat pula diberikan
langsung pada ternak briler. Bahan pakan ini kandungan proteinnya terbilang
tinggi yaitu berkisar 41% sedang kandungan energi metabolismenya berkisar 2800 kkal / kg.
Gambar 4.6. Broiler Konsentrat
4.3 Hasil Praktikum
Dalam
mencampur ransum tentunya tidak akan akan berhasil tanpa ada perhitungan jumlah
kandungan energi atau menghitung kandungan dalam suatu bahan pakan yang akan
dicampurkan demi membentuk suatu ransum, maka perhitungan-perhitungan tersebut
diperoleh dari praktikum sebelumnya yaitu Formulasi
Ransum dengan metode coba-coba dengan menggunakan beberapa bahan pakan
yaitu tepung ikan, bungkil kelapa, jagung, dedak padi, minyak Nabati, dan broiler konsentrat, didapatlah hasil nya seperti dalam
table di bawah ini :
NO
|
BAHAN
|
EM(Kkal/kg)
|
PK (%)
|
LK (%)
|
SK (%)
|
1
|
Dedak
|
2314
|
11,1
|
11,95
|
11,95
|
2
|
Jagung
|
3340
|
9
|
3,7
|
1,9
|
3
|
Bungkil kelapa
|
1860
|
20,5
|
9,6
|
14,1
|
4
|
Tepung ikan
|
2565
|
62
|
7
|
1
|
5
|
Minyak
|
9000
|
0
|
99,5
|
0
|
6
|
Broiler Konsentrat
|
2800
|
41
|
6
|
5
|
Tabel 4.1. Komposisi Bahan Makanan Ternak
KANDUNGAN ZM
|
EM (Kkal/kg)
|
PK (%)
|
LK (%)
|
SK (%)
|
KEBUTHAN
|
3100
|
22
|
8
|
6
|
Tabel 4.2. Kebutuhan Ternak Ayam Broiler Fase
Starter
NO
|
BAHAN
|
PEMAKAIAN
|
EM (Kkal/kg)
|
PK (%)
|
LK (%)
|
SK (%)
|
1
|
Dedak
|
9
|
208,26
|
0,999
|
1,0755
|
1,0755
|
2
|
Jagung
|
43
|
1436,2
|
3,97
|
1,591
|
0,817
|
3
|
B. kelapa
|
15
|
279
|
20,5
|
1,44
|
2,115
|
4
|
T. ikan
|
10
|
256,5
|
6,2
|
0,7
|
0,1
|
5
|
Minyak
|
5
|
450
|
0
|
4,975
|
0
|
6
|
Broiler Konstentrat
|
18
|
504
|
7,38
|
1,08
|
0,9
|
Jumlah
|
100 %
|
3133,96
|
21,524
|
10,861
|
5,007
|
|
Kebutuhan Briler Fase Starter
|
3100
|
22
|
8
|
6
|
||
Tabel 4.3. Hasil Formulasi Ransum
Dari
tabel diatas dapat dilihat penggunaan
beberapa bahan pakan yaitu tepung ikan sebanyak 10%, bungkil kelapa 15%, jagung sebanyak 43%, dedak sebanyak 9%, minyak Nabati sebanyak 5%, dan Broiler
Konsentrat
digunakan sebanyak 18%. Bahan yang akan dibuat sebanya 3 kg Maka untuk diperoleh dalam bentuk
berat (gram) diperolehlah hasil perhitungannya dalam table dibawah ini :
No.
|
Bahan Pakan
|
Persentase (%)
|
Penggunaan (gram)
|
1
|
Dedak
|
9
|
270
|
2
|
Jagung
|
43
|
1290
|
3
|
Bungkil kelapa
|
15
|
450
|
4
|
Tepung ikan
|
10
|
300
|
5
|
Minyak
Sayur
|
5
|
150
|
6
|
Broiler Konsentrat
|
18
|
540
|
Jumlah
|
100
|
3000
|
|
Tabel 4.4. Hasil Perhitungan Zat Makanan yang
Akan Digunakan
Setelah semua bahan dikumpulkan maka selanjutnya
dilakukan pencampuran ransum yang dilakukan di depan laboratorium FAPETRIK
UMPAR dengan menggunakan metode manual yaitu mencampur dengan alat seadanya
hingga bahan tercampur sempurna yang setelah itu di angin-anginkan sampai bahan
kering dengan merata.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum mencampur ransum ini dapat disimpulkan bahwa dalam proses
mencampur ransum kita harus teliti agar bahan-bahan yang dicampur menjadi rata
atau homogen, karena ransum merupakan sumber zat nutrisi utama yang digunakan
oleh ternak untuk tumbuh dan berkembang serta menjalankan proses metabolisme
yang berlangsung didalam tubuhnya. Ransum berupa sumber energi yang dapat
diperoleh dari bahan baku seperti jagung, ubi dan minyak sawit, sedangkan
sumber protein diperoleh dari bungkil kedele (
soybean meal ), corn gluten meal, meat bone meal, poultry by product dan
tepung ikan.
5.2 Saran
Untuk
para praktikan yang mengikuti pratikum diharapkan kehatian dan ketelitiannya
dalam bekerja, karena dengan kehati-hatian dan kedisiplinan maka pratikum akan
berlangsung sesuai dengan apa yang diharapkan. Dan diharapkan pada para
praktikan agar dapat meningkatkan kekompakan dalam kelompoknya demi kelancaran
dan suksesnya menjalani praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Anisa. 2002. Ilmu Makanan Ternak
Umum. Jakarta : PT. Gramedia http://mail.kimia.lipi.go.id. Diakses
tanggal 10 Mei 2014.
Ardiandy. 2002. Enzim Komponen Penting
dalam Pakan Bebas Antibiotika. Feed Mix
Special.
http:/www.alabio.cbn.net.
Hatara.2007. Laboratory Manual for Nutrition Reseach. Vikas publising house PVT Ltd.
Sahibabad. India.
http://sarilelairawan21.blogspot.co.id/2014/06/laporan-bpfr-mencampur-ransum.html
Joni, 2003. Kamus Kimia : Arti dan
Penjelasan Istilah. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Judika.
2006. Partical Guide to Feed Forage and Water Analysis. Yoo Han Pub. Korea Republic.
Prakoso. 2010.
Suplementasi Amonium Sulfat dan Defaunasi Rumen Untuk Optimalisasi Ransum
Berbahan Dasar Limbah Tanaman Tebu. Laporan Penelitian-Penelitian Dosen
Muda-DIKTI. Jakarta.
Rafand.
2001Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sytarjo, 2001.Praktikum Gizi Ruminansia.
LUW. Universitas Brawijaya. Animal Husbandry Project. Malang.
LAMPIRAN
Lampiran 1. perhitungan
zat makanan bahan pakan dan penggunaan zat makanan
Hasil perhitungan zat makanan bahan
pakan dan penggunaan zat makanan untuk pakan 3 kg/3000gr :
1.
Jagung : 43
x 3000/100 = 1.290
gr
2.
Dedak : 9 x 2000/100 = 270
gr
3.
Tepung ikan : 10 x 2000/100 = 300 gr
4.
Bungkil kelapa :15 x 2000/100 = 450
gr
5.
Minyak sayur : 5 x 2000/100 = 150
gr
6.
Broiler Konst : 18 x
2000/100 = 540 gr
Lampiran 2. Foto Kegiatan
Gambar 1. Bahan Pembuatan Ransum
Gambar 2. Penimbangan
Bahan Pakan
Gambar 3. Pencampuran bahan pakan
Gambar 4. Hasil Pencampuran Ransum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar