Senin, 13 Juni 2016

Laporan Pembuatan Ransum



Mata Kuliah : Dasar Ternak Unggas
Dosen              : Fitriani S.Pt,.M.P


PEMBUATAN RANSUM UNGGAS BROILER FASE STARTER


 


DISUSUN OLEH:
KELOMPOK II
                          NAMA :                                                                       NIM :
ü  MUH.RESKI                                                             215 140 043
ü  SUDARMAN                                                            215 140 047
ü  NURALIFAH ILYANA                                            215 140 040
ü  FAISAL                                                                      215 140 057
ü  FIRMANSYAH                                                         215 140 034







FAKULTAS PERTANIAN PETERNAKAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE
TAHUN AJARAN 2016



KATA PENGANTAR
Assalamualaikum.wr.wb.
Pertama-tama, marilah kita mengucapkan syukur pada Allah SWT yang telah memberi nikmat-nikmat-Nya yang tak dapat di dihitung, ibarat ranting-ranting di dunia ini sebagai pena dan air di laut sebagai tintanya maka tidak dapat melukiskan seluruh NikmatNya, sehingga laporan ini dapat selesai dengan tepat  waktu.
Dalam penyusunan laporan ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi, baik itu yang datang dari diri penulis maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya laporan ini dapat terselesaikan. Dan kami sebagai penulis  menyadari bahwa selesainya penyusunan laporan ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, teman dan kakak-kakak senior sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Laporan ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu berkaitan dengan Pencampuran Ransum pada ternak unggas, dalam hal ini Ransum Unggas Briler Fase Starter yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Semoga laporan ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Parepare.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, untuk itu kepada seluruh pihak terhusus kepada pembaca, kami sangat mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan pembuatan laporan  dimasa yang akan datang, semoga laporan selanjutnya dapat lebih baik.                  
Wassalamualaikum .Wr.Wb
Parepare, 28 Mei 2016
                                                                                               


Penyusun

DAFTAR ISI
SAMPUL
KATA PENGANTAR--------------------------------------------------------- i
DAFTAR ISI------------------------------------------------------------------ ii
DAFTAR TABEL------------------------------------------------------------- iii
DAFTAR GAMBAR---------------------------------------------------------- iv
DAFTAR LAMPIRAN------------------------------------------------------- v

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ----------------------------------------------------  1
1.2  Rumusan Masalah------------------------------------------------- 2
1.3  Tujuan Dan Manfaat ----------------------------------------------  2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA----------------------------------------------------- 3
2.1 Ransum------------------------------------------------------------- 3
2.2 Bahan Pakan------------------------------------------------------- 3

BAB III MATERI DAN METODA------------------------------------------------- 6
3.1 Waktu dan Tempat------------------------------------------------- 6
3.2 Materi-------------------------------------------------------------- 6
3.3 Metoda------------------------------------------------------------- 6

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN------------------------------------------- 7
4.1  Pembahasan Ransum----------------------------------------------- 7
4.2  Bahan Pakan------------------------------------------------------- 10
4.3  Hasil Praktikum---------------------------------------------------- 15

BAB V PENUTUP----------------------------------------------------------------------- 17
5.1  Kesimpulan -------------------------------------------------------- 18
5.2  Saran--------------------------------------------------------------- 18

DAFTAR PUSTAKA------------------------------------------------------------------- 19
LAMPIRAN------------------------------------------------------------------------------- 20
            Lampiran 1. Perhitungan zat makanan bahan pakan
dan zat makan---------------------------------------------------- 21
Lampiran 2. Foto kegiatan ---------------------------------------------------- 22




DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Komposisi Bahan Makanan Ternak--------------------------------- 16
Tabel 4.2. Kebutuhan Ternak Ayam Broiler Fase Starter---------------------- 16
Tabel 4.3. Hasil Formulasi Ransum-------------------------------------------- 17
Tabel 4.4. Hasil Perhitungan Zat Makanan yang Akan Digunakan------------ 17


DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Tepung Ikan------------------------------------------------------- 11
Gambar 4.2 Jagung------------------------------------------------------------- 12
Gambar 4.3 Dedak Padi------------------------------------------------------- 13
Gambar 4.4 Minyak Nabati---------------------------------------------------- 14
Gambar 4.5 Bungkil Kelapa--------------------------------------------------- 15
Gambar 4.6 Broiler Konsentrat------------------------------------------------ 15



DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. perhitungan zat makanan bahan pakan
dan penggunaan zat makanan ------------------------------------------------- 20
Lampiran 2 Foto Kegiatan----------------------------------------------------- 21

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan pakan adalah sesuatu yang bisa dimakan, dicerna seluruh/sebagian tubuh dan tidak menggangu kesehatan ternak yang memakannya.
Ransum merupakan susunan dari beberapa bahan pakan dengan perbandingan tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Ransum dicampur dari bahan-bahan yang mengandung gizi lengkap seperti protein, lemak, serat kasar, vitamin dan mineral. Semakin banyak ragam suatu ransum, kualitas ransum akan semakin baik terutama dari sumber protein hewani. Bahan yang dapat digunakan untuk mencampur ransum yaitu dedak, jagung, bungkil kelapa, Tepung ikan, Minyak Nabati, Broiler konsentrat dan lain-lain. Pada dasarnya mencampur ransum merupakan suatu kegiatan mengkombinasi berbagai macam bahan makanan ternak untuk memenuhi kebutuhan ternak akan zat makanan tersebut. Ransum terbagi 4 bagian : 1. Ransum sempurna adalah ransum yang kandungan zat-zat makananya cukup untuk memenuhi kebutuhan dan zat-zat makanan tersebut dalam keadaan seimbang 2. Ransum hidup pokok adalah ransum yang kandungan zat-zat makananya hanya sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan proses hidup saja (bernafas dan non produktif ) 3. Ransum produksi adalah ransum yang digunakan di atas kebutuhan hidup pokok guna dapat berproduksi sacara maksimal 4. Ransum ekonomis adalah ransum yang dapat menghasilkan atau memberikan hasil di atas biaya untuk makanan.
Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi.  Pakan merupakan faktor terpenting, karena mencakup 80% dari biaya produksi. Jumlah pakan yang diberikan harus tepat waktu dan jumlah agar pakan tidak terbuang percuma dan menyebabkan biaya operasional menjadi tinggi. Bahan baku pakan biasanya berasal dari hasil pertanian, perikanan, peternakan, serta hasil industri yang mengandung zat gizi dan layak digunakan sebagai pakan.
Dalam menyusunan Ransum yang ekonomis dan terjangkau peternak seoptimal mungkin memanfaatkan sumber daya local yang tersedia di lingkungan setempat. Selanjutnya dalam pemilihan bahan pakan yang perlu diperhatikan antara lain yaitu kandungan nutrisi bahan, tingkat kecernaan, ketersediaan, kontinuitas dan harga serta kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat anti nutrisi atau racun dalam bahan tersebut.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka secara spesifik permasalahan yang ingin dikaji dalam makalah ini adalah untuk mengetahui kebutuhan nutrisi pada ayam broiler.

1.3  Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum Penyusunan Ransum ini adalah agar Mahasiswa belajar menyusun suatu formula ransum sesuai dengan tujuan dan kebutuhan ternak. Manfaat yang diperoleh pratikan pada saat pratikum adalah mengetahui apa saja yang dipratikumkan dan dijelaskan oleh dosen maupun asistennya, tentang bagaimana cara penyusunan ransum dan bahan-bahan apa saja yang digunakan dalam penyususnan ransum serta persentase pemakaian bahan pakan yang akan digunakan dan pratikan dapat lebih mengetahui serta bisa mempraktekkanya secara realistis mengenai tata cara menyusun suatu formula ataupun mencampur ransum yang dibutuhkan oleh ternak secara baik.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ransum
Ransum merupakan susunan dari beberapa bahan pakan dengan perbandingan tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Ransum yang diberikan kepada ternak merupakan sumber zat nutrisi utama yang akan digunakan oleh ternak untuk tumbuh dan berkembang serta menjalankan proses metabolisme yang berlangsung didalam tubuhnya. Ketersediaannya baik dari aspek jumlah (kuantitas) maupun mutu (kualitas) harus sesuai dengan kebutuhan ternak. Ketidaktersediaan salah satu zat nutrisi atau kadarnya yang kurang akan segera direspon oleh tubuh ternak dengan menurunkan atau bahkan menghentikan proses metabolisme maupun produktivitasnya (tergantung tingkat dan lama defisiensi) (Rafandi, 2001).

2.2 Bahan Pakan
Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh hewan. Bahan makanan ternak terdiri dari tanaman, hasil tanaman dan kadang-kadang juga bahan makanan yang berasal dari ternak atau hewan yang hidup di laut (Tillman et al.1998). Bahan Pakan Yang digunakan Meliputi :
a)        Tepung ikan
Tepung Ikan berasal dari ikan sisa atau buangan yang tidak dikonsumsi oleh manusia atau sisa pengolahan industri makanan ikan sehingga kandungan nutrisinya beragam, pada umumnya berkisar antara 60-70%. Tepung ikan merupakan pemasok lysin dan methionin yang baik, dimana hal ini tidak terdapat pada kebanyakan bahan baku nabati. Kandungan nutrisi tepung ikan yaitu 60-70% protein, 1,0% serat kasar, 5,0% Ca dan 3,0% P ( Hatara jasa, 2007).
b)        Dedak Padi
merupakan hasil ikutan padi, jumlahnya sekitar 10% dari jumlah padi yang di giling menjadi beras. Bahan ini biasa digunakan sebagai sumber energi bagi pakan layer, yang mana penggunaanya rata-rata mencapai 10-20%. Energi yang terkandung dalam dedak padi bisa mencapai 2980 kkal/kg. Namun nilai ini bukan harga mati, karena jumlah energi yang bisa dihasilkan dari nutrient yang ada pada dedak tergantung dari jumlah serat kasar, dan kualitas lemak yang ada didalamnya. Semakin tinggi serat kasar maka semakin rendah pula jumlah energinya. Indikator tingginya serat kasar bisa di lihat dari jumlah hull/sekam nya dengan cara menaganalisa dengan phloroglucinol  (Joni, S, 2003).
c)        Minyak Nabati
Penggunaan minyak pada pembuatan pakan sebaiknya menggunakan minyak nabati yang baik, tidak mudah tengik dan tidak mudah rusak. Penggunaan minyak nabati yang biasanya berasal dari kelapa atau sawit pada umumnya berkisar antara 2-6%. Jagung merupakan bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai sumber protein. Kadar protewin jagung rendah yaitu 8,9%, bahkan defisien terhadap asam amino penting, terutama lysin dan triptofan (Judika, 2006).
d)       Jagung
Jagung merupakan bahan baku utama dalam pembuatan pakan. Proporsi penggunaan jagung khususnya dalam pembuatan pakan ayam ras mencapai 51.4 persen dari total bahan baku yang digunakan (Tangendjaja et al, 2002 dan Deptan, 2002). Jagung kuning digunakan sebagai bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai bahan sumber protein, karena kadar protein yang rendah (8,9%), bahkan defisien terhadap asam amino penting, terutama lysin dan triptofan.
e)        Bungkil kelapa
Bungkil Kelapa adalah: sisa-sisa ampas kelapa parut dan telah dihilangkan kadar airnya melalui proses pemanasan (digongseng), begitu juga dengan jagung dan kedelai. Bungkil jagung bearti sisa-sisa ampas jagung setelah diperas, lalu dikeringkan. Tujuan menghilangkan kadar air ini adalah agar bisa bertahan lama saat disimpan.
            Faktor penyebab ketidaktersediaan zat nutrisi dapat disebabkan ketidaktepatan manajemen penanganan dan penyimpanan ransum maupun kesalahan tata laksana pemberian ransumnya. Kondisi suhu, kelembaban maupun cahaya yang berlebih dapat menurunkan kadar zat nutrisi yang terkandung dalam ransum. (Sytarjo, 2011).
f)         Broiler Konsentrat
Broiler konsentrat adalah bahan yang telah tercampur yang khusu untuk pakan broiler. Bahan pakan ini dapat di campur dengan bahan pakan lain dan dapat pula diberikan langsung pada ternak briler. Bahan pakan ini kandungan proteinnya terbilang tinggi yaitu berkisar 41% sedang kandungan energi metabolismenya berkisar 2800 kkal / kg.




BAB III
MATERI DAN METODA
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum dilaksanakan pada hari Jum’at pukul 14.00 Wita sampai selesai, tanggal 27 Mei 2016. Tempat pelaksanaan dari praktikum ini yaitu di Laboratorium FAPETRIK Universitas Muhammadiyah Parepare

3.2 Materi
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum mencampur ransum yaitu tepung ikan, bungkil kelapa, dedak Padi, jagung halus, minyak Nabati, Broiler Konsentrat, terpal, timbangan dan plastik.

3.3 Metoda
Bahan-bahan yang sudah ada ditimbang terlebih dahulu. Kemudian kelompokkan bahan-bahan yang jumlahnya sedikit dan teksturnya halus dan campurkan sampai rata. Jika menggunakan dedak dan minyak , campurkan keduanya terlebih dahulu. Setelah itu tambahkan tepung ikan, bungkil kedele, jagung dan bahan lainnya. Campurkan semua bahan tersebut sampai rata dan homogen.






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan Ransum
Mencampur Ransum merupakan kegiatan pencampuran bahan pakan dengan memperhatikan upaya-upaya dalam mengefisienkan penggunaan input bahan-bahan pakan yang tersedia dengan perbandingan pakan, baik jumlah pakan maupun mutu dari pakan tertentu agar campuran tersebut dapat memenuhi pemeliharaan ternak yang akan mengkonsumsinya, yang tentu saja akan memperbaiki pendapatan kebutuhan ternak tersebut agar dapat berproduksi dengan baik.
Dalam mencampur ransum tentunya kita akan memakai ransum yang baik dan berkualitas, ransum dapat dinyatakan berkualitas baik apabila mampu memberikan seluruh kebutuhan nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrien tersebut bagi ternak. Ransum yang berkualitas baik berpengaruh pada proses metabolism tubuh ternak sehingga ternak dapat menghasilkan daging yang sesuai dengan potensinya. pernyataan tersebut dipertegas lagi oleh Barnes, Jones D. (2000) Ransum yang berkualitas baik merupakan salah satu syarat untuk dapat menghasilkan produksi ayam broiler yang optimal. Produksi optimal dapat dicapai bila bahan pakan yang digunakan dapat memenuhi keperluan gizi dalam tubuh ayam.
Dalam penyusunan ramsum ada beberapa metode yang digunakan yaitu :
1. Metode coba-coba (Trial and Error Method).
2. Metode bujur sangkar (Square Method).
3. Metode programming method (LP).
4. Metode matrik 2 x 2 (Two By Two Matrik).
5. Metode berpedoman kadar protein.
6. Metode berpedoman kadar energy.
Dalam penyusunan ransum pada praktikum ini  metode yang dipakai yaitu metode coba-coba, menurut Mardiana (2011) kelemahan dari metode ini yaitu meskipun metode ini merupakan penyusunyan ransum dengan cara yang paling mudah tetapi membutuhkan waktu yang  lama  dan biaya yang cukup besar.
Ransum adalah bahan pakan yang dapat mempengaruhi kebutuhan ternak selama 24 jam. Namun menurut Leeson,S. and J.D. Summers, (2001) Ransum merupakan gabungan dari beberapa bahan yang disusun sedemikian rupa dengan formulasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak selama satu hari dan tidak mengganggu kesehatan ternak.
Rasyid, Dkk (2003) menyatakan bahwa ransum adalah campuran bahan-bahan ransum untuk memenuhi kebutuhan zat-zat nutrisi yang seimbang dan tepat. Seimbang dan tepat berarti zat makanan itu tidak berlebihan dan tidak kurang. Ransum yang diberikan haruslah mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Tujuan utama pemberian ransum kepada ayam untuk menjamin pertambahan berat badan yang paling ekonomis selama pertumbuhan (Tazmiri, 2000).
Produktivitas broiler yang maksimal akan tercapai apabila ayam tersebut mendapatkan ransum yang seimbang kandungan asam aminonya. Rasyid, Dkk(2003) menyatakan bahwa asam amino sebagai zat makanan diperlukan tubuh sama halnya seperti mineral, energi, vitamin dan asam lemak.
Ransum yang kita campur kemudian akan diberikan pada ayam harus mengandung suplementasi sebagai sumber zat nutrisi utama yang akan digunakan oleh tubuh ayam untuk tumbuh dan berkembang serta menjalankan proses metabolisme yang berlangsung di dalam tubuhnya. Ketersediaannya baik dari aspek jumlah (kuantitas) maupun mutu (kualitas) harus sesuai dengan kebutuhan ayam.
Ketidaktersediaan salah satu zat nutrisi atau kadarnya yang kurang akan segera direspon oleh tubuh ayam dengan menurunkan atau bahkan menghentikan proses metabolisme maupun produktivitasnya (tergantung tingkat dan lama defisiensi).
Pernyataan diatas dipertegas oleh Suwandak (2000) ia menyebutkan bahwa faktor penyebab ketidaktersediaan zat nutrisi ini dapat disebabkan ketidaktepatan manajemen penanganan dan penyimpanan ransum maupun kesalahan tata laksana pemberian ransumnya. Kondisi suhu, kelembaban maupun cahaya yang berlebih dapat menurunkan kadar zat nutrisi yang terkandung dalam ransum. Kadar air dalam bahan baku ransum yang berlebih (> 14%) juga dapat menurunkan kualitas ransum. Selain itu penyimpanan yang terlalu lama dan tidak menggunakan alas juga bisa mengakibatkan hal tersebut.
Oleh karena itu, pemberian suplemen diperlukan untuk melengkapi atau memenuhi kandungan zat nutrisi yang berkurang akibat penanganan dan penyimpanan yang kurang tepat.
Komponen dari bahan makanan yang dapat dicerna dan digunakan dalam tubuh ternak terdiri dari : karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air.  Mineral ialah suatu senyawa an-organik yang menyusun + 4% dari tubuh ayam. Ketersediaannya harus disuplai dari luar, misalnya melalui ransum karena tubuh ayam tidak bisa memproduksinya. Dalam perkembangannya, ketersediaan mineral dapat berupa mineral organik, yaitu mineral yang digabungkan dengan senyawa organik seperti asam amino, asam organik atau polisakarida. (Uaiskunilhaq, 2009).
            Dari praktikum yang telah dilaksanakan sebelumnya diajarkan mengenai prinsip ransum yang baik, yaitu :
1. Nutriennya seimbang.
2. Ransumnya homogen.
3. Faktor exsternal ransum yang digunakan rendah.
4. Faktor internal ransum yang diharapkan tinggi.
5. Palabilitas oleh ternak tinggi.
6. micotoxyn yang ada dalam ramsum sedikit atau tidak ada.
Dan ada beberapa karakteristik ransum yang baik yaitu :
a) Jumlah dan jenis zat makanan disesuaikan dengan fase pertumbuhan ternak, produktifitas ternak (ternak perah memerlukan zat makanan yang lebih banyak dan lebih tinggi mutunya dari ternak potong) dan pengelolaan ( ternak yang dikurung atau dikandang memerlukan zat makanan yang lebih banyak dan lebih tinggi mutunya dari ternak yang dilepas).
b) Bentuk fisik ransum harus disesuaikan, sehingga tidak mengganggu nafsu makan dan pencernaan.
c) Ransum tidak akan menyebabkan gangguan pencernaan yang dapat menurunkan manfaat gizi.
d) Perlu adanya pembatasan-pembatasan yang disesuaikan kepada harga bahan-bahan persediaan yang berkesinambunganm dan ketahanan bahan baku bila disimpan dalam waktu tertentu serta kepada adanya kandungan racun atau yang menghambat pencernaan nutrisi lainnya.

4.2 Bahan Pakan
Ayam broiler fase starter merupakan  hasil teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis, pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan rendah.(Murtidjo, 1987).
Untuk mendapatkan bobot badan yang sesuai  dengan yang dikehendaki pada waktu yang tepat, maka perlu diperhatikan pakan yang tepat. Kandungan energi pakan yang tepat dengan kebutuhan ayam dapat mempengaruhi konsumsi pakannya, dan ayam jantan memerlukan energi yang lebih banyak daripada betina, sehingga ayam jantan mengkonsumsi pakan lebih banyak. Untuk memenuhi kebutuhan pakan yang cukup maka disusun lah ransum.
a)        Tepung Ikan
            Tepung ikan (marine fish meal) adalah salah satu produk pengawetan ikan dalam bentuk kering, kemudian digiling menjadi tepung. Bahan baku tepung ikan umumnya adalah ikan-ikan yang kurang ekonomis, hasil sampingan penangkapan dari penangkapan selektif, glut ikan (ikan yang melimpah) pada musim penangkapan dan sisa-sisa pabrik pengolahan ikan seperti pabrik pengalengan dan pembekuan ikan dan minyak ikan. Tepung ikan digunakan dalam bahan pakan karena kandungan protein dan mutu proteinnya yang tinggi.  Mutu protein bergantung dari kesesuaian komposisi asam-asam amino penyusun protein yang dibutuhkan oleh ternak. Oleh karena itu dalam pakan buatan untuk ikan selalu dibutuhkan tepung ikan, jumlahnya bergantung dari jumlah total protein yang terkandung dalam pakan.  Biasanya berkisar antara 10% – 50% dari total kandungan protein dalam pakan. 
            Tepung ikan yang biasa digunakan adalah yang berwarna coklat, ada yang coklat pucat sampai dengan coklat gelap.  Pakan yang coklat gelap sering kali dianggap mengandung banyak tepung ikan, padahal warna tersebut juga bisa berasal dari tepung hewan darat. Anas (2005) Tepung ikan yang baik baunya harum, tidak amis dan tidak anyir.  Kandungan proteinnya diatas 62%, kandungan lemaknya 7 %, butirannya halus, tidak terlalu banyak mengandung tulang.  Tepung ikan yang terlalu amis atau anyir menandakan bahwa bahan baku tepung ikan tidak segar.
            Kualitas tepung ikan ditentukan oleh jenis ikannya (bahan baku), penyimpanan ikan segar sejak mulai ditangkap di laut sampai pabrik pengolahan dan cara pengolahannya. Jenis ikan dan proses produksi tepung ikan akan mempengaruhi kadar protein dan lemak tepung ikan.  Sedangkan kesegarannya ditentukan oleh cara penyimpanan ikan segar sampai dengan ikan tersebut diolah menjadi tepung ikan.
Kebutuhan protein tergantung pada umur ayam, tingkat pertumbuhan , iklim, dan penyakit. Anak ayam mulai menetas (DOC) sampai umur 6-7 minggu diberikan ransum mengandung protein 20 – 22%, sedangkan setelah itu 17 – 18%.   Vitamin berfungsi antara lain melancarkan proses kehidupan di dlam alat-alat tubuh seperti pencernaan, pembentukkan tulang, perumbuhan, dan memberikan daya tahan tubuh terhadap penyakit atau infeksi (Veronicha, 2000).
Gambar 4.1. Tepung Ikan
b)        Jagung
Jagung merupakan bahan baku utama dalam pembuatan pakan. Proporsi penggunaan jagung khususnya dalam pembuatan pakan ayam ras mencapai 51.4 persen dari total bahan baku yang digunakan (Tangendjaja et al, 2002 dan Deptan, 2002). Jagung kuning digunakan sebagai bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai bahan sumber protein, karena kadar protein yang rendah (9%), bahkan defisien terhadap asam amino penting, terutama lysin dan triptofan.
Jagung merupakan salah satu komponen pakan ternak yang paling banyak dibutuhkan. Menurut Direktorat Jendral Bina Produksi Tanaman Pangan (2002) sesuai dengan standar, komposisi pakan yang berasal dari jagung, adalah untuk ayam pedaging 54 persen, ayam petelur 47,14 persen. Dengan demikian fungsi jagung khususnya untuk pakan menjadi sangat penting.
Kandungan nutrisi jagung :
  • Bahan kering : 75 – 90 %
  • Serat kasar : 1,9 %
  • Protein kasar : 9 %
  • Lemak kasar : 3,7 %
  • Energi Metabolisme : 3340 Kkal/kg
Jagung merupakan sebagai sumber energi yang rendah serat kasarnya, sumber Xantophyll, dan asam lemak yang baik, jagung kuning tidak diragukan lagi. Asam linoleat jagung kuning sebesar 1,6%, tertinggi diantara kelompok biji-bijian.
Gambar 4.2. Jagung
c)        Dedak Padi
            Dedak padi diperoleh dari penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya dedak padi yang dihasilkan tergantung pada cara pengolahannya. Sebanyak 14,44% dedak kasar, 26,99% dedak halus, 3% bekatul dan 1-17% menir dapat dihasilkan dari berat gabah kering. Dedak padi sangat disukai ternak, pemakaian dedak padi dalam ransum ternak umumnya sampai 25% dari campuran kosentrat. Kelebihan penambahan dedak padi dalam ransum dapat menyebabkan ransum mengalami ketengikan selama penyimpanan. Bulk desinty dedak padi yang baik adalah 337,2-350,7 g/l. Dedak padi yang berkualitas baik protein rata-rata dalam bahan kering adalah 12,4%, lemak 13,6% dan serat kasar 13,0 %. Kandungan protein Dedak padi lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung. Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin. (A. Husin, 2009)
            Kelemahan utama dedak padi  adalah kandungan serat kasarnya yang cukup tinggi, yaitu 11,95 % dan adanya senyawa fitat  yang dapat mengikat mineral dan protein sehingga sulit dapat dimanfaatkan oleh enzim  pencernaan. Inilah yang merupakan faktor pembatas penggunaannya dalam penyusunan  ransum. Namun, dilihat dari kandungan proteinnya Berkisar 11,5 %,  bahan pakan ini sangat diperhitungkan dalam penyusunan ransum unggas. Dedak padi  mengandung energi termetabolis berkisar 2314 kkal/kg. Kelemahan lain  pada dedak padi adalah kandungan asam aminonya yang rendah, demikian juga halnya  dengan vitamin dan mineral nya (Rasyaf, 2004).  Penggunaan dedak padi dalam ransum unggas ada batasanya, yaitu 10% untuk  ayam Broiler  fase starter. (Hendri, 2002).

Gambar 4.3. Dedak Padi
d)       Minyak Nabati
Kandungan energi minyak berkisar antara 9000 kkal / kg bergantung dari bahan dan kualitas minyak tersebut. Minyak dianjurkan untuk diberikan pada unggas dalam jumlah yang relatif sedikit. Campuran minyak goreng pada pakan maksimal 5%.
Terdapat tiga faktor utama yang harus diperhitungkan dalam menyusun pakan yang akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas. Ke tiga hal tersebut adalah ketersediaan bahan pakan unggas di daerah peternakan tersebut, harga bahan pakan unggas, dan kandungan zat-zat makanan bahan pakan unggas. Ketiga faktor tersebut mempengaruhi lima komponen bahan pakan unggas yang menjadi penyusun pakan terbesar, yaitu bekatul, minyak goreng dan jagung sebagai sumber energi pakan, bungkil kedelai dan tepung ikan sebagai sumber protein pakan. Dalam fomilasi ransum minyak jugaberfungsi sebagai perekan antara bahan pakan yang satu dengan yang lainnya agar menjadi homogen. (Anas, 2005)
Gambar 4.4. Minyak Nabati
e)        Bungkil kelapa
Bungkil Kelapa adalah: sisa-sisa ampas kelapa parut dan telah dihilangkan kadar airnya melalui proses pemanasan (digongseng), begitu juga dengan jagung dan kedelai. Bungkil jagung bearti sisa-sisa ampas jagung setelah diperas, lalu dikeringkan. Tujuan menghilangkan kadar air ini adalah agar bisa bertahan lama saat disimpan.
Bungkil kelapa dapat di berikan pada ayam broiler fase starter tidak lebih dari 15% Hal ini dikaitkan dengan kandungan protein pada bungkil kelapa berkisar 20,5%, Lemak kasar 9,6%, serat kasar 14,1%, dan Energi metabolismenya adalah 1860 kkal / kg
Gambar 4.5. Bungkil Kelapa
f)         Broiler Konsentrat
Broiler konsentrat adalah bahan yang telah tercampur yang khusu untuk pakan broiler. Bahan pakan ini dapat di campur dengan bahan pakan lain dan dapat pula diberikan langsung pada ternak briler. Bahan pakan ini kandungan proteinnya terbilang tinggi yaitu berkisar 41% sedang kandungan energi metabolismenya berkisar 2800 kkal / kg.
Gambar 4.6. Broiler Konsentrat

4.3 Hasil Praktikum
Dalam mencampur ransum tentunya tidak akan akan berhasil tanpa ada perhitungan jumlah kandungan energi atau menghitung kandungan dalam suatu bahan pakan yang akan dicampurkan demi membentuk suatu ransum, maka perhitungan-perhitungan tersebut diperoleh dari praktikum sebelumnya yaitu Formulasi Ransum dengan metode coba-coba dengan menggunakan beberapa bahan pakan yaitu tepung ikan, bungkil kelapa, jagung, dedak padi, minyak Nabati, dan broiler konsentrat, didapatlah hasil nya seperti dalam table di bawah ini :

NO
BAHAN
EM(Kkal/kg)
PK (%)
LK (%)
SK (%)
1
Dedak
2314
11,1
11,95
11,95
2
Jagung
3340
9
3,7
1,9
3
Bungkil kelapa
1860
20,5
9,6
14,1
4
Tepung ikan
2565
62
7
1
5
Minyak
9000
0
99,5
0
6
Broiler Konsentrat
2800
41
6
5
Tabel 4.1. Komposisi Bahan Makanan Ternak


KANDUNGAN ZM
EM (Kkal/kg)
PK (%)
LK (%)
SK (%)
KEBUTHAN
3100
22
8
6
Tabel 4.2. Kebutuhan Ternak Ayam Broiler Fase Starter

NO
BAHAN
PEMAKAIAN
EM (Kkal/kg)
PK (%)
LK (%)
SK (%)
1
Dedak
9
208,26
0,999
1,0755
1,0755
2
Jagung
43
1436,2
3,97
1,591
0,817
3
B. kelapa
15
279
20,5
1,44
2,115
4
T. ikan
10
256,5
6,2
0,7
0,1
5
Minyak
5
450
0
4,975
0
6
Broiler Konstentrat
18
504
7,38
1,08
0,9
Jumlah
100 %
3133,96
21,524
10,861
5,007
Kebutuhan Briler Fase Starter
3100
22
8
6
Tabel 4.3. Hasil Formulasi Ransum

Dari tabel diatas dapat dilihat penggunaan beberapa bahan pakan yaitu tepung ikan sebanyak 10%, bungkil kelapa  15%, jagung sebanyak 43%, dedak sebanyak 9%, minyak Nabati sebanyak 5%, dan Broiler Konsentrat digunakan sebanyak 18%. Bahan yang akan dibuat sebanya 3 kg Maka untuk diperoleh dalam bentuk berat (gram) diperolehlah hasil perhitungannya dalam table dibawah ini :
No.
Bahan Pakan
Persentase (%)
Penggunaan (gram)
1
Dedak
9
270
2
Jagung
43
1290
3
Bungkil kelapa
15
450
4
Tepung ikan
10
300
5
Minyak Sayur
5
150
6
Broiler Konsentrat
18
540
Jumlah
100
3000
Tabel 4.4. Hasil Perhitungan Zat Makanan yang Akan Digunakan

Setelah semua bahan dikumpulkan maka selanjutnya dilakukan pencampuran ransum yang dilakukan di depan laboratorium FAPETRIK UMPAR dengan menggunakan metode manual yaitu mencampur dengan alat seadanya hingga bahan tercampur sempurna yang setelah itu di angin-anginkan sampai bahan kering dengan merata.



BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum mencampur ransum ini dapat disimpulkan bahwa dalam proses mencampur ransum kita harus teliti agar bahan-bahan yang dicampur menjadi rata atau homogen, karena ransum merupakan sumber zat nutrisi utama yang digunakan oleh ternak untuk tumbuh dan berkembang serta menjalankan proses metabolisme yang berlangsung didalam tubuhnya. Ransum berupa sumber energi yang dapat diperoleh dari bahan baku seperti jagung, ubi dan minyak sawit, sedangkan sumber protein diperoleh dari bungkil kedele (  soybean meal ), corn gluten meal, meat bone meal, poultry by product dan tepung ikan.

5.2 Saran
Untuk para praktikan yang mengikuti pratikum diharapkan kehatian dan ketelitiannya dalam bekerja, karena dengan kehati-hatian dan kedisiplinan maka pratikum akan berlangsung sesuai dengan apa yang diharapkan. Dan diharapkan pada para praktikan agar dapat meningkatkan kekompakan dalam kelompoknya demi kelancaran dan suksesnya menjalani praktikum.







DAFTAR PUSTAKA
Anisa. 2002. Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta : PT. Gramedia http://mail.kimia.lipi.go.id. Diakses tanggal 10 Mei 2014.
Ardiandy. 2002. Enzim Komponen Penting dalam Pakan Bebas Antibiotika. Feed Mix Special. http:/www.alabio.cbn.net.
Hatara.2007. Laboratory Manual for Nutrition Reseach. Vikas publising house PVT Ltd. Sahibabad. India.
http://sarilelairawan21.blogspot.co.id/2014/06/laporan-bpfr-mencampur-ransum.html
Joni, 2003. Kamus Kimia : Arti dan Penjelasan Istilah. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Judika. 2006. Partical Guide to Feed Forage and Water Analysis. Yoo Han Pub. Korea Republic.
Prakoso. 2010. Suplementasi Amonium Sulfat dan Defaunasi Rumen Untuk Optimalisasi Ransum Berbahan Dasar Limbah Tanaman Tebu. Laporan Penelitian-Penelitian Dosen Muda-DIKTI. Jakarta.
Rafand. 2001Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sytarjo, 2001.Praktikum Gizi Ruminansia. LUW. Universitas Brawijaya. Animal Husbandry Project. Malang.












LAMPIRAN



Lampiran 1. perhitungan zat makanan bahan pakan dan penggunaan zat makanan

Hasil perhitungan zat makanan bahan pakan dan penggunaan zat makanan untuk pakan 3 kg/3000gr :
1.      Jagung                : 43 x 3000/100           = 1.290 gr
2.      Dedak                : 9 x 2000/100             = 270 gr
3.      Tepung ikan       : 10 x 2000/100           = 300 gr
4.      Bungkil kelapa   :15 x 2000/100            = 450 gr
5.      Minyak sayur     : 5 x 2000/100             = 150 gr
6.      Broiler Konst     : 18 x 2000/100           = 540 gr



Lampiran 2. Foto Kegiatan
Gambar 1. Bahan Pembuatan Ransum
Gambar 2. Penimbangan Bahan Pakan
Gambar 3. Pencampuran bahan pakan
Gambar 4. Hasil Pencampuran Ransum



Tidak ada komentar:

Posting Komentar